RSS

AKSIOLOGI


Aksiologi berasal dari kata Yunani,yaitu axios berarti nilai. Sedangkan logos berarti ilmu teori. Jadi, aksiologi adalah teori tentang nilai. Aksiologi dipahami sebagai nilai. Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya.
Ada banyak pendapat tentang aksiologi, antara lain :
·           Jujun S. Suriasumantri mengartikan aksiologi sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan ilmu dari pengetahuan yang diperoleh.
·           John Sinclair merujuk pada pemikiran atau suatu sistem seperti politik, sosial dan agama. Sedangkan nilai itu sendiri adalah sesuatu yang berharga, yang diidamkan oleh setiap insan.
·           Bramel mendefinisikan aksiologi terbagi menjadi 3 bagian, yaitu moral conduct (tindakan moral bidang ini melahirkan disiplin khusus yaitu etika, estetik expression ungkapan keindahan bidang ini melahirkan keindahan, sosio polical life bidang ini merupakan kehidupan social politik,yang akan melahirkan filsafat sosio politik).
·           Drs. Prasetya mengatakan aksiolgi adalah study tentang nilai, sedangkan nilai itu sendiri adalah suatu yang berharga yang diidamkan oleh setiap insan. Adapun nilai yang dimaksud adalah nilai jasmani (nilai yang terdiri atas nilai hidup, nilai nikmat, dan nilai guna), dan nilai rohani (nilai yang terdiri atas nilai intelek, nilai estetika, nilai etika, dan nilai religi) dari nilai tersebut nilai hidup dijadikan sebagai dasar, yaitu sesuatu yang didambakan manusia untuk kelangsungan hidupnya. Sedangkan nilai religi adalah nilai utama, yaitu sesuatu yang didambakan  untuk kemuliaan dirinya.

Aksiologi merupakan ilmu yang mempelajari hakikat dan manfaat yang sebenarnya dari pengetahuan, dan sebenarnya ilmu pengetahuan itu tidak ada yang sia-sia kalau kita bisa memanfaatkannya dan tentunya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan di jalan yang baik pula. Karena akhir-akhir ini banyak sekali yang mempunyai ilmu pengetahuan yang lebih itu dimanfaatkan di jalan yang tidak benar.

http:blog.uin-malang.ac.id/abrorainun/2010/10/15/pengertian aksiologi         


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kegunaan Aksiologi Terhadap Tujuan Ilmu Pengetahuan



Berkenaan dengan nilai guna ilmu, baik itu ilmu umum maupun ilmu agama, tak dapat dibantah lagi bahwa kedua ilmu itu sangat bermanfaat bagi seluruh umat manusia, dengan ilmu seseorang dapat mengubah wajah dunia.
Berkaitan dengan hal ini, menurut Francis Bacon seperti yang dikutip oleh Jujun S.Suriasumatri yaitu bahwa “pengetahuan adalah kekuasaan” apakah kekuasaan itu merupakan berkat atau justru malapetaka bagi umat manusia. Memang kalaupun terjadi malapetaka yang disebabkan oleh ilmu, karena ilmu itu sendiri merupakan alat bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan hidupnya. Lagi pula ilmu memiliki sifat netral, ilmu tidak mengenal baik ataupun buruk melainkan tergantung pada pemilik dalam menggunakannya. .
Nilai kegunaan ilmu, untuk mengetahui kegunaan filsafat ilmu atau untuk apa filsafat ilmu itu digunakan, kita dapat memulainya dengan melihat filsafat sebagai tiga hal, yaitu:
  1. Filsafat sebagai kumpulan teori digunakan memahami dan mereaksi dunia pemikiran.
Jika seseorang hendak ikut membentuk dunia atau ikut mendukung suatu ide yang membentuk suatu dunia, atau hendak menentang suatu sistem kebudayaan atau sistem ekonomi, atau sistem politik, maka sebaiknya mempelajari teori-teori filsafatnya. Inilah kegunaan mempelajari teori-teori filsafat ilmu.
  1. Filsafat sebagai pandangan hidup.
Filsafat dalam posisi yang kedua ini semua teori ajarannya diterima kebenaranya dan dilaksanakan dalam kehidupan. Filsafat ilmu sebagai pandangan hidup gunanya ialah untuk petunjuk dalam menjalani kehidupan.
  1. Filsafat sebagai metodologi dalam memecahkan masalah.
Dalam hidup ini kita menghadapi banyak masalah. Bila ada batui di depan pintu, setiap keluar dari pintu itu kaki kita tersandung, maka batu itu masalah. Kehidupan akan dijalani lebih enak bila masalah masalah itu dapat diselesaikan. Ada banyak cara menyelesaikan masalah, mulai dari cara yang sederhana sampai yang paling rumit. Bila cara yang digunakan amat sederhana maka biasanya masalah tidak terselesaikan secara tuntas.penyelesaian yang detail itu biasanya dapat mengungkap semua masalah yang berkembang dalam kehidupan manusia.
Dalam pemanfaatan aksiologi ilmu dapat dikaitkan juga dengan kenyataan yang ada di Indonesia saat ini. Bencana-bencana seperti tak berhenti melanda bumi pertiwi. Yang terakhir paling hangat dibicarakan adalah bencana alam Wasior, Merapi, dan Mentawai yang terjadi dalam waktu hampir bersamaan. Kecamatan Wasior di Papua Barat, diterjang longsor dan banjir bandang. Kepulauan Mentawai di Sumatra Barat diguncang gempa dahsyat dan tsunami yang menyapu bersih wilayah di pesisir pulau tesebut. Gunung merapi di kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta, meletus berulang kali hingga memuntahkan awan panas yang suhunya mencapai 600o celcius. Tentu ketiga bencana jelas bukan hanya telah dan akan memakan korban jiwa manusia yang tidak sedikit, namun juga telah menghantam dan memporak-porandakan seluruh isi sekitar bencana. Dari contoh diatas dapat kita kaitkan dengan aspek aksiologi ilmu. Bencana-bencana yang terjadi di Indonesia terlepas dari kuasa Tuhan YME, ternyata manusia juga ikut berperan dalam kehancuran bumi. Contoh, dari Wasior yang dilanda banjir bandang baru-baru ini ditemukan fakta bahwa penyabab banjir bandang adalah illegal logging atau pembalakan liar hutan yang seharusnya menjadi tadah air hujan justru tidak ada.
Kedua,gunung Merapi yang kembali memuntahkan awan panas. Namun, dari banyak bencana yang terjadi ada point kesalahan yang dilakukan yaitu adanya kegandaan koordinasi di lapangan yang mengakibatkan kebingungan pelaksanaan perintah hingga banyak nyawa dari saudara-saudara kita yang tidak tertolong karena keterlambatan evakuasi. Lengkap sudah penderitaan dan bencana di negeri ini, dari kesalahan dan kecerobohan manusia, kini dilengkapi dengan tidak tersalurkannya bantuan secara tepat sasaran bagi pengungsi kerena tidak ada sarana untuk menjangkau daerah yang parah karena tsunami di Mentawai.
            Aksiologi akan memberi sebuah pemahaman kepada kita tentang sebuah keseimbangan antara nilai dan bagaimana penilaian kita terhadap suatu objek dan dengan keadaan bangsa saat ini. Dalam aksiologi terdapat nilai-nilai yang terkandung didalamnnya. Kita dapat menggaris bawahi dari pendapat Drs. Prasetya : adanya nilai jasmani antara lain nilai hidup, nilai nikmat, dan nilai guna, nilai hidup dengan keadaan sekarang benar-benar di prioritaskan. Jika dalam teori nilai hidup merupakan suatu yang dikejar untuk kelangsungan hidupnya, maka dalam prakteknya manusia benar-benar memprioritaskan nilai tersebut. Seperti saat merapi meletus, masyarakat lebih memilih menyelamatkan diri dan meniggalkan harta benda yang dimiliki. Sedangkan nilai rohani adalah faham tentang nilai religi akan menjadi prioritas ke depan, keyakinan teguh yang dipegang untuk pedoman kehidupan di dunia dan akhirat. Kenyataannya, apabila manusia tidak memiliki pedoman mengenai suatu keyakinan maka dalam hidupnya seolah manusia tidak mempunyai tujuan, tidak mengenal Tuhan, dan tidak mengerti agama.
            Dari pernyataan – pernyataan diatas dapat kita simpulkan bahwa aksiologi merupakan suatu ilmu yang mengajarkan cara tentang bagaimana manusia mampu menyeimbangkan antara pengertian dan pelaksanaan nilai dalam kehidupan.

http:blog.uin-malang.ac.id/abrorainun/2010/10/15/pengertian aksiologi          

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perbekalan Tatausaha



            Dalam setiap kantor modern selain kertas dan alat tulis untuk melaksanakan tatausaha masih diperlukan bermacam – macam barang perbekalan yang banyak sekali ragamnya dan jumlahnya mencapai puluhan seperti misalnya amplop, asahan potlot, bak surat, bantalan cap, jam tembok, jepitan kertas, dan sejenisnya. Untuk jelasnya dan tertibnya, dapatlah kiranya segenap perbekalan tatausaha itu digolongkan dalam jenis – jenis barang berikut :
1.    Barang lembaran
: misalnya kertas tik, karbon, berkas.
2.    Barang bentuk lainnya
: misalnya lim, karet, penghapus, tinta.
3.    Alat tulis
: misalnya potlot, pulpen, cap nomor.
4.    Alat keperluan lainnya
: misalnya mistar, alat pencabut jepitan kawat,  bantalan cap.
5.    Mesin perkantoran
: misalnya mesin tik, mesin hitung, mesin stensil
6.    Perabotan perkantoran
: misalnya meja, lemari, peti besi.
7.    Perlengkapan lainnya
: misalnya lampu, permadani, kipas angin.
            Pelaksanaan tatausaha dengan berbagai barang perbekalan itu sesungguhnya memerlukan hal – hal lain yang dapat dianggap sebagai “bahan baku” atau bahan mentahnya. Hal – hal yang dimaksud tidak lain adalah konsepsi – konsepsi pikiran manusia berupa abjad, angka, tanda – tanda baca (koma, titik, tanda tanya), tanda – tanda hitung (tambah, kali, tanda sama dengan), dan sistem – sistem tulisan dengan huruf – huruf yang lazim maupun khusus seperti tulisan steno. Bahan – bahan baku ini dengan melalui barang – barang perbekalan tatausaha dan menurut serangkaian aturan tatatertib tertentu dipakai untuk menyatakan secara tertulis berbagai keterangan yang diperlukan.
            Akhirnya dari perpaduan antara kegiatan – kegiatan tatausaha, bahan – bahan baku, dan barang – barang perbekalan itu terciptalah benda – benda hasil kerja yang dapat berbentuk segala macam warkat, buku (misalnya buku kas), dan benda berketerangan lainnya (contoh : medali kejuaraan).
            Setiap meja kerja di kantor perlu dilengkapi dengan macam – macam perlengkapan untuk pelaksanaan tatausaha dengan sebaik – baiknya. Perlengkapan tatausaha itu meliputi baik barang yang awet pakai maupun benda – benda yang habis pakai. Pengertian awet pakai ialah bahwa barang – barang itu tahan lama pemakaiannya, misalnya alat pelubang kertas, walaupan pada akhirnya bisa juga rusak karena pemakaian terus menerus yang sangat lama. Sebaliknya, benda – benda yang habis pakai tidak selalu berarti bahwa benda itu menjadi musnah atau habis tanpa meninggalkan bekas dalam pemakaiannya seperti misalnya karet penghapus, melainkan dapat juga berarti bahwa setelah sesuatu benda dipakai maka benda itu tidak dapat lagi dipakai untuk yang kedua kalinya.
            Dalam kepustakaan asing benda – benda keperluan tatausaha yang habis dalam pemakaiannya itu lazimnya disebut office supplies (bekal tatausaha). Sebuah buku pegangan merumuskan office supplies sebagai benda – benda yang dipakai habis dalam pelaksanaan pekerjaan sehari – hari dari pegawai – pegawai tatausaha. Yang tergolong office supplies ini adalah pena, potlot, tinta, pita mesin tik, kertas, blangko formulir, karbon, karet penghapus, berkas, jepitan kertas. Di antara macam – macam bekal tatausaha yang terpakai habis dalam penggunaanya di kantor itu sebagai keseluruhan disebut stationer (keperluan tuis – menulis).
            Menurut Leffingwell dan Robinson, setiap meja tulis hendaknya dilengkapi dengan standard perlengkapan tatausaha yang terdiri dari :
1.      Desk trays (baki – baki surat)
2.      Desk calendar (tanggalan meja)
3.      Ruler (garisan)
4.      Pens (pena – pena)
5.      Penholders (tangkai – tangkai pena)
6.      Pencils (potlot – potlot)
7.      Colored pencil (potlot warna)
8.      Eraser (penghapus potlot)
9.      Blotters (kertas – kertas isap)
10.  Shears (gunting)
11.  Stapler (penjepret kawat)
12.  Tray for clips (bak untuk jepitan – jepiatan kertas)
13.  Tray for pins (bak untuk jarum – jarum)
14.  Tray for rubber bands (bak untuk karet – karet gelang)
15.  Binders (berkas – berkas jepitan)
16.  Band dater (cap tanggaan)
17.  Stamp pad (bantal cap)
18.  Stationery requisitions (blangko – bangko formulir permintaan keperluan tulis menulis)
19.  Scratch paper (kertas untuk coret – coretan)
Setiap kantor perlu pula dilengkapi dengan sejumlah perlengkapan tatausaha. Suatu daftar perlengkapan itu telah disusun oleh Frances King dan Louis Feldman sebagai berikut, tapi jumlahnya masing – masing barang untuk suatu kantor tergantung pada besar kecilnya kantor yang bersangkutan :
· Mesin tik
·  Tanda petunjuk arsip surat
·   Alat penajam potlot
· Mesin stensil
· Tanggalan meja
·   Penjepret kawat
· Mesin jumlah
· Tinta
·   Pengungkit kawat jepret
· Lemari arsip
· Tempat tinta
·   Pelubang kertas
· Timbangan surat
· Tangkai
·   Gunting
· Keranjang sampah kantor
· Pena
·   Alat pembuka surat
· Bak surat
· Potlot
·   Garisan
· Cagak topi/ pakaian
· Potlot warna
·   Bunga karang karet dan tempatnya
· Jam
· Penghapus potlot
·   Kertas bungkus
· Kamus
· Penghapus mesin tik
·   Tali
· Blangko surat
· Penghapus tinta
·   Kertas berlapis perekat
· Amplop berbagai ukuran
· Kertas isap
·   Jalur perekat dari plastik
· Kertas polos
· Kertas untuk coret – coretan
·   Perekat cair atau kental
· Karbon
· Jepitan kertas
·   Paku payung
· Buku catatan juru steno
· Karet gelang

· Berkas, ukuran surat
· Bak untuk jepitan kertas dan karet gelang

Dari daftar di atas ternyata bahwa setiap kantor bilamana diharapkan dapat menunaikan tugasnya secara memuaskan dalam masyarakat modern dewasa ini hendaknya dilengkapi dengan perlengkapan tatausaha yang banyak macamnya. Beberapa alat tatausaha yang dapat ditambahkan pada daftar di atas untuk lebih melancarkan pekerjaan ialah pe=isau lipat atau silet, papan tulis dengan kapur dan penghapusnya, buku catatan harian, bel bagi pimpinan untuk memanggil pesuruh atau pegawai bawahannya, kalkulator, mesin perangko, rak surat, dan tancapan surat serta peraatan lainnya untuk menyimpan surat/ dokumen. Penggolongan dan penaruhan macam – macam warkat itu lebih mudah dilakukan dengan rak surat, sedang penyimpanan suatu catatan yang bersifat sementara dapat dilakukan dengan tancapan surat.
            Akhirnya, berhubung dengan peranan setiap kantor modern dewasa ini sebagai pusat ingatan dan sumber informasi, maka dalam kantor itu hendaknya disediakan pula buku – buku petunjuk untuk menjadi tempat bertanya mengenai segala fakta umum yang diperlukan dari waktu ke waktu. Buku – buku petunjuk atau karya – karya referensi itu kegunaanya masing – masing dapat dibedakan dalam jenis – jenis berikut :
1.      Encyclopedia (ensiklopedi)
: untuk memperoleh keterengan tentang sesuatu hal yang meliputi latarbelakangnya dan uraian dasar yang bersifat luas.
2.      Yearbook
(buku tahunan)
: untuk mengetahui perkembangan dari peristiwa – peristiwa dalam tahun – tahun yang terakhir.
3.      Dictionary (kamus)
: untuk mencari arti, perumusan, ejaan, dan peristilahan dari sesuatu hal.
4.      Almanac (almanak)
: untuk mencari fakta – fakta khusus dalam suatu bidang tersendiri, termasuk angka – angka statistik.
5.      Handbook
(buku pegangan)
: untuk memperoleh penjelasan yang luas dan lengkap mengenai poko soal dalam suatu bidang spesialisasi.
6.      Gazetter, atlas
(kamus geografi, atlas)
: untuk mencari keterangan tentang suatu tempat.
7.      Biographical dictionary (kamus riwayat hidup)
: untuk mencari keterangan tentang riwayat hidup seseorang yang sudah termasuk tokoh.
8.      Directory
(daftar alamat)
: untuk mencari nama dan alamat dari seseorang, suatu perusahaan, atau organisasi – organisasi lainnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

contoh neraca lajur


NAMA AKUN
Daftar Saldo Sebelum Penyesuaian
Pencatatan Penyesuaian
Daftar Saldo Setelah Penyesuaian
Laba/ Rugi
Pencatatan Penutup
Neraca
D
K
D
K
D
K
D
K
D
K
D
K
Kas
9.710.000



9.710.000





9.710.000

Piutang
200.000



200.000





200.000

Bahan habis pakai
250.000


100.000
150.000





150.000

Peralatan kantor
1.150.000



1.150.000





1.150.000

Akum. Penyus. Peralatan kantor



23.000

23.000





23.000
Utang

650.000



650.000





650.000
Modal

10.000.000



10.000.000





10.000.000
Prive
200.000



200.000







Dividen
50.000



50.000




50.000


Laba ditahan








50.000
957.000

907.000
Pendapatan

1.800.000

350.000

2.150.000

2.150.000
2.150.000



Biaya sewa
150.000



150.000

150.000


150.000


Biaya gaji
200.000

70.000

270.000

270.000


270.000


Biaya listrik
250.000



250.000

250.000


250.000


Biaya iklan
150.000

110.000

260.000

260.000


260.000


Biaya asuransi
140.000



140.000

140.000


140.000


TOTAL
12.450.000
12.450.000










Piutang pendapatan


350.000

350.000





350.000

Utang gaji



70.000

70.000





70.000
Utang iklan



110.000

110.000





110.000
Biaya bahan habis pakai


100.000

100.000

100.000


100.000


Biaya penyusutan peralatan kantor


23.000

23.000

23.000


23.000















Penghitungan Laba/ rugi






957.000





Ikhtisar Laba/ rugi








2.150.000
2.150.000


TOTAL


653.000
653.000
13.003.000
13.003.000
2.150.000
2.150.000
4.350.000
4.350.000
11.560.000
11.760.000


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS